“Manusia bisa punya seribu rencana, namun Allah yang menentukan”
Dulu saya sering mendengarkan bahkan hanya mengucapkan kalimat di atas tanpa benar benar mengerti. Namun sekarang saya berhadapan dengannya. Ternyata tidak mudah untuk mengikat maknanya. Bahkan saya butuh beberapa hari untuk akhirnya melepaskan semua.
Hari senin sore pekan lalu, semua rencana sudah rampung. tinggal menunggu waktu yang ditentukan dan saya siap untuk memulai sesuatu yang baru. Tak disangka ada deringan telpon yang mengubah semuanya bahkan membuat semua istana rencana yang saya bangun hancur, rata dengan tanah. Tak bersisa.
Semua rasa bercampur aduk. Bahkan saya tidak dapat menahan diri untuk menangis yang sukses membuat mata saya bengkak. >_Saya takut. …
Sampai hari jumat lalu, saya bertemu dengan teman yang beberapa bulan ini menjadi teman seperjuangan. Kami bertukar cerita setelah liburan yang panjang. Salah satu cerita yang ia bagi adalah tentang buku yang dibacanya. Ada quote yang sangat disukainya sampai-sampai dicatatnya dengan rapi.
“Kalau Allah mau ngasih Mercy, untuk apa menangisi Bajaj yang lewat”*
Huah…that’s quote is for me.
Kami membahasnya cukup panjang. Kemudian saya tertawa. Menertawakan diri sendiri. Pikiran saya ternyata masih sempit. Mata saya masih kurang lebar. Bahkan untuk memahami mengapa air mengalir, mengapa bintang bersinar, mengapa dunia berputar**, saat itu saya tak mampu. Maafkan saya, Ya Allah. Hampir saja saya putus asa atas rahmat-Mu. Hampir saja saya lupa, bahwa semua hal mengenai kehidupan ini telah tertulis jelas di buku-Mu.
Allah,saya menyerahkan semuanya kepadaMu. Maha suci Engkau yang tidak pernah ingkar terhadap semua yang telah Engkau janjikan.
Ganbatte ne, Ally-chan.
Ps: credit to :
*Soulmate dot com book
**Sherina-Lihat lebih dekat
Dapat dari Loopeen..
Purist
Yup, Saya ngeblog karena memang suka nulis. Walaupun kebanyakan hanya hal hal konyol. Kalau ada beberapa orng yang memanfaatkan ads untuk nambak angka di saldo tabungan mereka, saya blom tertarik. hehehe…
Expert
Kalau yang satu ini jelas tidak. Templete saja masih copy paste. Mau ubah header saja susahnya bukan main. Masih perlu belajar nih ma sensei, suhu, tutor dll
Socialite
Sekarang lagi belajar…>_<
Diarsipkan di bawah: my days

…
Entah apa kata yang tepat untuk menggambarkan perjalanan kali ini
Kalau ingat lagi perjalanan pulang dari Kendari-Kolaka-Siwa-Makassar kemarin benar benar bikin sesak. Kapok pulang ke kendari tanpa rencana yang matang. Tiket pesawat sudah tak ada yang tersisa. mau tidak mau harus pulang lewat kolaka, menyebrang lewat ferry ke siwa dan nyambung lagi ke Makassar. Awalnya saya tetap optimis karena perjalanan ini sudahpernah saya lakukan ketika pulang ke Kendari pekan lalu.
Jam 5 pagi setelah shalat subuh M, kakak dan saya sudah harus ke perwakilan yang menyediakan mobil menuju Kolaka. huah..jalanan masih penuh kabut. Yang asyik bisa lihat jalanan yang pemandangannya terus berganti.
Jam 8.30 tidak terasa, kami tiba di Kolaka. Ternyata mobil yang kami tumpangi tadi tidak langsung ke pelabuhan. Kami masih harus cari angkutan umum untuk ke sana. yah, masih pagi, ga masalah. Lagian barang bawaan juga tidak banyak. Setelah dapat angkutan umum, seperti biasa baru berangkat setelah semua kursi terisi penuh, ternyata belum berangkat juga.argh..Matahari saat itu sudah terik walau masih terhitung pagi. baru 20 menit lebih kemudian kita menginggaklan terminal. Alarm pertama udah kedap kedip.
Di pelabuhan, kita juga harus jalan lagi beberapa ratus meter. Ada sih ojek, tapi ga deh.Ga masalah jalan. Lagian begitu masuk saya disambut ma angin yang sejuk banget. Kejadian di terminal menguap sudah.
Ternyata eh ternyata, kapalnya masih kosong. Baru beberapa tempat duduk yang terisi. yaiy…Bisa pilih tempat. M, kakak dan saya memilih tempat yang agak depan. Supaya bisa cepat keluarnya. Walau masih harus menunggu sampai kurang lebih dua jam, setidaknya saya masih kebagian tempat duduk. Banyak dari penumpang yang telat datang terpaksa duduk du dek atas yang ga beratap. Fuh…
Jam 11.lewat beberapa menit akhirnya kapal kecil itu berangkat. Di tengah lautan luas saya bisa merasakan ombak saat itu besar banget. Soalnya kapalnya sampai bergoyang ke kanan dan kiri.ugh…jadi mual…untuk nggak sampai Mu****. Untung saja ada buku yang blom sempat saya baca. Dog’s life akhirnya selesai dalam waktu dua jam. Wait for the review..
Jam 3 lewat akhirnya kapal berlabuh. Huah..saya kembali dikejutkan dengan tangga darurat. Salah langkah bisa bisa tercebur di laut. Untung saja sneakers yang saya kenakan bisa diajak kerja sama. >_< Keluar dari kapal harus jalan kaki lagi. Semangat…!!
Sayangnya semua keinginan untuk sampai ke rumah secepatnya harus menguap. Tidak ada satupun mobil yang kosong untuk perjalanan ke makassar. Hiks…Ga tahu mau ngapain lagi. Rasanya semua energi terkuras.
Selama sejam kami harus menunggu di pelabuhan tanpa kepastian. Ternyata kami tidak sendiri. Setelah menoleh ke kanan dan kiri ternyata masih banyak juga yang bernasib sama seperti kami. Akhirnya setelah berembuk, akhirnya kami sepakat untuk keluar dari pelabuhan dan mencari mobil bersama.
Jam 5 lewat, akhirnya saya bisa duduk. Pikiran masih kalut…
Jam 11 malam…akhirnya nyampe rumah..lelah dan kantuk sudah bercampur jadi satu. Setelah bersih bersih, tempat tidur jadi satu satunya tempat ternyaman saat itu. zzzzz…
Untungnya semua sudah berakhir(Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat)..ga lagi lagi deh pulang mendadak..
Diarsipkan di bawah: omedetto tanjobi
When I left home to be who I am
Some people said “no way”
But I laid it all down, gave everything
In my head rang the words that my Father said
You’re never farI will be where you are
And when you come to Me
I will open My arms
Welcome home, you
I know you by name
How do you do?
I shine because of you today
So come and sit down
Tell me how you areI know, son(daughter),it’s good just to see your face
When I look at you holding my heart
I will give to you all that I have Son(daughter),
I know there’ll be times you will feel all alone
I will share with you the words my Father said
You’re never farI will be where you are
And when you come to Me
You can bet I will open My arms
So I’ll be waiting for that dayJ
ust to feel Your warm embrace
Your love has shown
I will never be alone
For You will welcome me homeI
’ll forever be, for you will say to me
Welcome home
When I left home to be who I am
Some people said “no way”
It’s nice to see you againHave a greater life*Pray*Ps: credit to Brian L
Kejadiannya kemarin pagi pas nyetrika kudung yang mau saya pakai. Tiba tiba, segerombolan semut hitam keluar dari lantai yang jumlahnya banyak banget. Semuanya keluar. Ada semut pencari makanan , Semut bersayap, baan semut besar juga keluar. Jumlahnya ratusan. Huah…karena geli saya langsung nyari kapur BAGUS yang ampuh untuk ngusir semut.Tapi ga satu pun tersisa.
Setelah memastikan kapurnya benar benar nggak ada, saya akhirnya kembali ke ruang setrika. Semutnya makin banyak. begitu mendekat mereka dengan cepat menjalar di kaki (pada dasarnya emang diriku manis..heheheh). Huah…dengan terburu-buru saya menyelesaikan setrikaan dan tentu saja sambil berjuang menghempas semut semut. Terpikir untuk ngambil cairan pembasmi serangga. Tapi nggak tega. Soalnya semut yang keluar tuh seperti koloni yang lagi kalut. Entah apa yang terjadi dengan sarang mereka. Kalau cairan beracun itu saya semprot mereka pasti tambah kalut. Tapi kalau seperti ini trus bisa bisa ruang setrika dipenuhi semut.
Karena matahari dan jam di dinding dah teriak-teriak menyuruh saya meninggalkan rumah, akhirnya tanpa melakukan apapun. Yah whatever will be will. Semoga kakak bisa mengatasi semut semut itu dengan baik. ^_^V
Di perjalanan, masih aja teringat ma semut semut itu. Teringat film ANTZ dan Bully the Ant. Dan tentu saja flash back jaman sd dulu. Setiap kali ngeliat lubang semut di tanah, pasti langsung otomatis ngambil kayu kecul yang bisa saya gunakan untuk merusak sarang mereka. Semua itu karena Ally kecil penasaran ma jalur yang mereka buat di dalam tanah. Ally kecil hanya ingin memastikan kalau sarang mereka itu sama seperti yang digambarkan di buku buku. Bahkan saking isengnya, saya meneteskan air diatas sarang yang sudah saya rusak.
Ari-san Gomen ne…
Magrib, saya balik ke rumah. Begitu naik ke lantai dua langsung ingat lagi ma pasukan semut itu. Tapi ternyata ruang setrika benar benar bersih. Tak satupun semut yang terlihat. Saya pikr semua dibersihkan ma kakak. Tapi ternyata kakak malah ga thu kalau ada sekoloni semut yang datang. Huah…ada apa dengan semut semut itu?












