
Beberapa hari setelah aktivitas di sekolah berakhir, rumah kembali menjadi pusat peredaran. Kalau pun keluar rumah, itu juga karena saya tidak ingin mati kebosanan hanya karena melakukan hal yang sama setiap hari. *sigh*
Namun tetap saja kalau dihitung perbandingannya, intensitas keberadaan saya di rumah masih jauh lebih banyak dibanding berkeliaran di gramedia hanya untuk sekedar melihat buku-buku baru dan menuliskannya di wishlist ataupun hang out bersama anak-anak ayam yang sedang beradaptasi dengan dunia baru setelah beberapa pekan lalu kehilangan induknya.hihi..
Positifnya, perhatian saya pada keadaan rumah jadi lebih. Bunga – bunga dan pohon sekarang sudah bisa mendapatkan hak untuk hidup lebih layak. Karena air yang saya beri ke mereka tidak asal-asalan lagi. Lantai rumah juga jadi lebih sering dipel. Dan tentu saja prestasi terbesar adalah tidak ada lagi pakaian yang bertumpuk. ^_^V
Sayangnya, ketika semua pekerjaan rumah sudah selesai, keinginan untuk duduk dan memegang remote control di depan kotak yang mengeluarkan suara dan gambar warna-warni itu kembali muncul. Arghhhh…. Tidak bisa bohong saya merindukan semua gambar bergerak itu. Dari anime, kartun, Siaran Berita,Talkshow, Serial terbaru bahkan dengan semua commercials break alias iklan T_T. padahal sebelum sebelumnya tidak pernah seperti ini. saya masih bisa bertahan. Masih ada KOMPAS utnk mengakses semua kejadian di luar sana. Radio yang memungkinkan saya mendengarkan siaran Dagiek-Desta. Tapi rasanya sekarang berbeda. Saya tetap ingin melihat orang –orang yang begerak di kotak hitam itu.
Yah, sudah lebih dari setahun TV di rumah hanya bisa difungsikan bersama DVD player. Lain tidak. Masalahnya terletak pada antenna yang udah beberapa kali diganti tapi tetap saja tidak cocok. *sigh* . Begitu dinyalakan yang ada hanya layar hitam. Bahkan semut-semut hitam dan putih tak terlihat.
TV memang benar-benar beracun. bahkan ketika saya yakin saya bisa hidup tanpanya. Virus-virus itu kembali menyerang ketika tahu bahwa penghuni rumah tak lagi punya banyak hal untuk dikerjakan. Bahkan buku-buku di rak dan semua games di komputer kalah telak. Kalau sudah benar-benar tidak tahan, rumah sepupu akhirnya jadi tempat pelarian. Hihihi..yah, hitung – hitung silarutahim ma Oom dan Tante.
SOS…

Tidak terasa sudah sepekan sejak kelas tempat saya belajar banyak hal selama setahun berakhir.
Bukan karena sekolah kena proyek penggusuran
tapi karena guru yang tidak pernah lelah meluangkan waktunya untuk murid – muridnya itu akhirnya meninggalkan Makassar
Otomatis semua berubah
Dari hilangnya internet gratis sampai schedule setiap harinya.
![]()
Dan tentu saja kehilangan sosok guru yang selama ini sudah saya anggap sebagai orang tua.
Sepekan ini terasa aneh . Serasa anak ayam yang kehilangan induknya…
Setahun yang lalu saya memutuskan untuk balik ke sekolah (SMK Telkom Sandhy Putra 2). Setelah sepekan sebelumnya resign dari tempat kerja saya selama lebih dari 2 tahun 8 bulan. Banyak alasan mengapa saya mengambil keputusan yang resikonya banyak. Salah satunya jelas menyangkut pemasukan setiap bulannya yang hilang secara drastis. Namun keputusan saya sudah bulat. Saya sudah membicarakannya dengan M dan D. Begitu juga dengan pertimbangan kedua kakak perempuan. Saya tahu mereka menyayangkan keputusan itu. Untungnya mereka mengerti ketika saya mengutarakan semua alasannya.
Kembali ke sekolah bukan berarti saya mengajar seperti yang disangka oleh beberapa orang. saya benar-benar belajar. Bukan berarti masuk kelas seperti biasa. Saya bersama alumni yang lain belajar di ruang Pak Denny, Wakil Kepala Sekolah. Awalnya saya sempat ragu, karena ingatan terakhir saya, Pak Denny tuh orangnya yang disiplin banget, yang jarang ngasih wajah ramah ke murid-muridnya dan tentu saja tidak pernah mentolerir sedikitpun pada murid – murid yang menyontek. Tidak tanggung-tanggung, kertas jawaban tuh bisa di robek sampai jadi serpian kecil. Namun ternyata saya salah, karena saya memang tidak benar benar mengenal sosok bapak yang selalu meluangkan waktunya untuk mengisi kelas kosong. Sepekan belajar banyak hal di ruangan Pak Denny bersama kakak Eqhie dan Yuyun (miss you gals >_<) pandangan saya berubah.
Tidak ada hari tanpa ilmu baru. itu prinsip yang diajarkan Pak Denny kepada semua anak bimbingannya. Tidak sedikit dorongan semangat yang ditularkan. Bahkan beliau selalu menyakinkan kami bahwa kami pasti bisa meraih semua yang kami inginkan. Sampai sampai lagu Aku Bisa dari AFI Junior jadi lagu yang terdengar diruangan yang tidak begitu luas itu
Kadang ku takut dan gugup
Aku merasa ooo tak sanggup
Melihat tantangan di sekitarku
Aku merasa tak mampu
Namun ku tak mau menyerah
Aku tak ingin berputus asa
Dengan gagah berani aku melangkah
Dan ternyata aku bisa
Aku bisa Aku pasti bisa
Ku terus terus berusaha
Bila ku gagal itu tak mengapa
Setidaknya Aku tlah mencoba
Aku bisa Aku pasti bisa
Ku tak mau berputus asa
Coba terus coba
Sampai ku bisa
Aku pasti bisa
Bisa dibilang ini lagu kebangsaan anak-anak bimbingan Pak Denny. Setiap ada alumni baru yang datang, kami semua pasti menyemangatinya dengan lagu ini. It works well.
Banyak hal yang kami pelajari. Dari mengubah pola pikir, ESQ, sampai hal – hal yang berkaitan dengan Alam bawah sadar dan bagaimana mengoptimalkannya. Semua alumni yang pernah belajar di ruangan kecil itu tahu benar betapa banyak ilmu yang telah diberikan oleh beliau. Walau tak jarang beberapa dari kami melupaka nbeberapa hal – hal kecil hanya karena lalai dalam mencatatnya. Termasuk saya sendiri.( I’m so sorry).
Tak hanya belajar di ruangan, Pak Denny sesekali mengajak kami belajar di luar. Yang paling berkesan adalah sewaktu beliau mengajak kami ke Pantai Losari. Sesudah shalat magrib di Masji Anshar, tiba-tiba tanpa direncanakan beliau membeli kecrekan dan tam tam. Kami (kakak Eqhie, Yuyun + Abang, Aljin, Rahma, Lutfi, tidak ketinggalan saya) disuruh ngamen. Saat itu Lutfi (SMIP 13) juag membawa gitar. Lengkap sudah perlengkapan untuk ngamen. Pertarungan pun dimulai.
Tidak sedikit orang yang menolak namun tak jarang orang yang membiarkan kami menyanyikan satu sampai dua lagu. Kesimpulan hanya satu. Ngamen itu tidak mudah. Bukan hanya karena tidak siap dengan lagu-lagu ngamen namun kami semua harus melawan rasa malu. Ketika akhirnya acara ngamen kami selesai, uang yang terkumpul sekitar 7500,- yang akhirnya kami berikan kepada para pengamen yang sebelumnya telah menyanyi beberapa lagu untuk kami yang saat itu merasa kelelahan. Terlepas dari semua rasa lelah, ada kebanggaan tersendiri setelah menyelesaikan pelajaran malam itu.
Seiring berjalannya waktu, banyak alumni yang datang dan pergi. Ada yang pergi karena akhirnya pindah ke kota lain karena alasan kuliah ataupun mendapatkan pekerjaan di satu perusahaan. Saya sendiri pernah beberapa kali nyaris meninggalkan ruangan kecil itu, namun karena satu dan lain hal saya akhirnya kembali belajar lebih banyak hal baru lagi.
Kakak Ephie, Endah + Penny + K’ Acha, Ila, Risma, Kifa, Fadje, Dila, Indri adalah teman baru saya di beberapa bulan belakangan ini, di susul terakhir oleh Opiek, Agung, Ikram, dan Mega, beberapa pekan sebelum kelas ini benar benar berakhir.
Berakhir?
Sekarang ruangan kecil itu dihuni oleh orang lain. Pak Denny akhirnya pindah ke Jakarta. Beliau di tempatkan di AKATEL sebagai Direktur Utama. Ketika pertama kali mendengarnya, saya benar benar terkejut. Begitu berita itu tersebar ke semua anak bimbingan, tidak ada yang tidak menyayangkan kepindahan beliau. Namun saya tidak hentinya mengingatkan mereka, bahwa ini adalah hal yang terbaik bagi kami semua. Yah, kepindahan ini sudah menjadi doa Pak Denny sejak lama. kami tidak boleh egois. Walau memang ada rasa kehilangan yang besar. Tidak hanya karena kehilangan sosok guru sekaligus figur yang kami anggap sebagai Ayah kedua, namun kami juga tahu bahwa kebersamaan kami, anak – anak bimbingannya, akan perlahan lahan hilang.
Rasanya ucapan terima kasih tak akan pernah cukup membalas semua kebaikan Pak Denny.
Sepekan terakhir sebelum beliau meninggalkan Makassar, ruangan kecil itu tak pernah sepi. Karena kami semua tahu bahwa kesempatan ini tak berulang. Bahkan kakak Eqhie selalu meluangkan waktunya untuk datang. Bahkan Nita (Stelk 8th) memutuskan untuk cuti selama sepekan dari kantornya di pare-pare.
Hari selasa ini tepat sepekan lebih, Pak Denny pindah ke Jakarta. Selama itu pula kami anak bimbingannya layak seperti anak ayam kehilangan induknya. Walaupun kami berkomitmen untuk tetap menjaga tali silaturahim, namun kenyataannya tidak semudah diucapkan.

Was a long and dark December
From the rooftops I remember
There was snow
White snow
Clearly I remember
From the windows they were watching
While we froze
Down below
When the future’s architectured
By a carnival of idiots on show
You’d better lie low
If you love me
Won’t you let me know?
Was a long and dark December
When the banks became cathedrals
And the fog
Became God
Priests clutched onto bibles
Hollowed out to fit their rifles
And the cross was held aloft
Bury me in honor
When I’m dead and hit the ground
A love back home unfolds
If you love me
Won’t you let me know?
I don’t want to be a soldier
Who the captain of some sinking ship
Would stow, far below
So if you love me
Why’d you let me go?
I took my love down to Violet Hill
There we sat in snow
All that time she was silent still
So if you love me
Won’t you let me know?
If you love me,
Won’t you let me know?

Akhirnya postingan baru muncul juga di blog ini. ^_^.Bukannya tidak ada ide untuk nulis. Malah sebaliknya saking banyaknya yang mau di tulis, jadi bingung mau mulai yang mana duluan. Halah!Tapi hal itu memang benar-benar terjadi, saudara-saudara!!! Hanya saja semuanya saya biarkan berguguran sebelum berkembang (hahaha…lagu favorit D waktu saya masih SD). Yah, satu lagi pelajaran dalam dunia tulis menulis. Kalau dah ada sesuatu yang melintas di pikiran , jangan menunda untuk menuangkannya dalam tulisan. Kalau memang sibuk tuliskanlah dalam sebuah catatan kecil ataupun di notes yang selalu tersedia dihampir semua HP. Soalnya kalau dibiarkan menumpuk di kepala, bisa-bisa semuanya akan hilang hanya dalam hitungan hari, jam bahkan detik dan itulah yang terjadi pada saya. Kecuali kemampuan otak Anda memang di atas rata-rata.Tuh kan ada ide baru lagi. Kapan kapan saya mau nulis ah tentang kemampuan otak. Hehehe….
Yang tulisan dibawah ini adalah salah satu yang berhasil survive setelah diterjang badai selama beberapa hari.
Beberapa hari belakangan ini, banyak sekali hal yang membuat emosi saya naik turun. Dari yang excited sampai yang akhirnya sesegukan. Ada apa? Ada apa? Ada apa?
Excited karena akhirnya panggilan psikotest di salah satu perusahaan yang dah saya tunggu selama beberapa pekan akhirnya muncul. Kalau sesegukan, yang satu ini agak sedikit panjang ceritanya.
Tepat hari rabu yang lalu (dua hari setelah panggilan psikotest itu datang), saya akhirnya benar-benar yakin kalau saya memang belum memenuhi standar kualifikasi (baca: ga lulus, haha) di perusahaan yang proses rekruitmentnya hampir 6 bulan itu. Eh jangan salah, saya bukan sesegukan karena tidak lulus. Karena ini bukan untuk pertama kalinya saya ditolak oleh perusahaan. Walau memang sih agak sakit, soalnya semua perusahaan itu nolaknya pas di tahap terakhir. Kebanyakan alasannya sih, mereka mengutamakan para pria..argh…
Sampai beberapa hari pipi saya masih kering. Bukannya sok kuat. Tapi waktu yang tersisa terlalu singkat kalau dihabiskan hanya untuk meratapi nasib. Walau akhirnya pertahanan saya jebol. Penyebabnya adalah manga karya Takehiko Inoue, REAL. Ada satu kalimat yang membuat saya akhirnya sesegukan ketika membacanya kalimat yang dilontarkan salah satu tokoh di dalamnya. “Dia memilihmu dengan pertimbangan kalau anak ini pasti bisa melewatinya“Gosh…Allah ternyata masih menyapa saya bahkan lewat manga sekalipun.Saya percaya ini bukan kebetulan. Pipi saya jadi benar – benar basah karenanya.
Setelah benar benar lega, saya jadi ingat dengan satu ayat di surat Al Baqarah ayat 286 yang dulunya jadi kalimat “sakti” kalau lagi ada masalah jaman kuliah dulu.” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
Baru juga beberapa jam setelah insident banjir air mata itu berakhir, tiba-tiba ada berita dari Wakasek. SK kepindahan yang telah beliau tunggu – tunggu akhirnya keluar juga. Itu berarti ruangan yang selama setahun ini kami (baca: alumni yang masih berstatus job seeker) jadikan ruang belajar harus segera di bereskan. Mengingat Wakasek yang baru akan segera datang. Gosh… pas dengar berita itu saya jadi benar-benar kaget. Soalnya masih banyak pelajaran yang belum selesai. Bahkan masih banyak ilmu yang beliau berikan yang belum sepenuhnya saya serap. Ga bakal ada lagi inet gratis. Sesegukan lagi? hehehe…tentu saja tidak. Saya sudah pulih seperti sedia kala. Yah, memang sih saya dan anak-anak yang lain tidak hanya kehilangan tempat belajar tapi juga seseorang yang selama ini sudah kami anggap sebagai bapak kedua.
Begitu dapat ijin untuk menyebarkan berita ini ke semua teman seperjuangan. Mereka langsung berebutan nelpon (sok penting mode on). Dan seperti yang saya tebak, reaksi mereka semua sama. hehehehe….
Awalnya saya juga seperti itu. Untung saja dua kalimat sakti di atas membuat saya kembali kuat. Mungkin memang ini yang terbaik untuk semua.
*sigh*
Untuk orang -orang di luar sana yang lagi down…cheers up..we can pass it through. Trust Me!!!

I think that possibly, maybe I'm falling for you Yes theres a chance that I've fallen quite hard over you. I've seen the paths that your eyes wander down I want to come too I think that possibly, maybe I'm falling for you No one understands me quite like you do Through all of the shadowy corners of me I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much All of the while I never knew I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much All of the while I never knew I think that possibly, maybe I'm falling for you Yes theres a chance that I've fallen quite hard over you. I've seen the waters that make your eyes shine Now I'm shining too Because oh because I've fallen quite hard over you If I didn't know you, I'd rather not know If I couldn't have you, I'd rather be alone I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much All of the while I never knew I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much All of the while, I never knew All of the while , all of the while It was you Landon Pigg- Falling in Love at a Coffee Shop










