See, Listen, Think and Write


BookCrossing???
Juli 22, 2008, 5:46 pm
Diarsipkan di bawah: my thought | Tag: ,

BookCrossing, Istilah ini saya dapatkan di Bibliophile edisi no 2-April – Juli 2007, majalah yang berisi informasi tentang buku yang diterbitkan penerbit GPU (Gramedia Pustaka Utama) yang dikirimkan secara gratis bagi semua anggotanya.

Menurut artikel, bookcrossing ini adalah nama suatu komunitas online pencinta buku. If you love your books enough, let them go. Para anggotanya meletakkan buku mereka dengan sengaja ditempat-tempat umum. Tujuannya untuk diambil dan dibaca oleh siapa saja yang kemudia diharapkan akan melakukan hal yang sama.

Sang penulis artikel tentang BookCrossing ini juga telah melakukan hal yang sama. Seperti anggota yang lain, ia juga meninggalkan buku-buku miliknya di tempat strategis seperti kafe pinggir jalan, warnet atau bangku taman.

Kalau dibayangkan, rasanya menyenangkan berbagi buku dengan orang lain yang sama sekali asing bagi kita. Namun untuk melakukan hal yang sama, saya masih ragu. saya masih bertanya pada diri sendiri. Akankah orang yang mendapatkannya nanti adalah seorang pencinta buku atau bukan? Akankah ia membacanya dan melakukan hal yang sama dengan meletakkannya di tempat umum?

Jangan salahkan saya jika masih terbersit keraguan untuk melakukan hal yang dilakukan para anggota BookCrossng, karena nilai dari tahun ke tahun untuk minat baca bangsa ini tidak pernah meningkat secara signifikan. Sayang rasanya kalau buku-buku kesayangan saya itu jatuh ke tangan yang tidak punya minat sama sekali sehingga buku itu bukannya disebar tapi sebaliknya buku itu akhirnya mendekam berdebu disalah sudut rumahnya.

Yah sementara masih liat liat dulu



Another Love ups Refusal, Denial and Declination Letter
Juli 22, 2008, 5:24 pm
Diarsipkan di bawah: me me me, my days, my thought | Tag: , ,

Kemarin ada seorang pria yang ngetuk – ngetuk pintu. Dari lantai dua wajahnya lumayan cakep. Terlihat di tangannya ada sebuah amplop. Bisa dipastikan dia bukan pengganti bapak – bapak penagih rekening air dan bukan juga Pak Pos, soalnya nggak pake seragam. Jadi siapa dong? Penasaran gitu.

Pas buka pintu, tidak lupa wajahku dihiasi dengan senyum dan berharap ada kejutan yang manis, ternyata oh ternyata dia bawa surat.

Untuk saya?

Ya iyalah. Dengan jelas di sana tertera nama Asriani Purnama

Dari dia?

Hohoho…sayanganya bukan. Surat itu perusahaan seluler terkemuka di Indonesia. Kata mas cakep yang ternyata kurir itu katanya sih isinya hasil test kemarin. Sambil harap – harap cemas, terbukalah amplop putih itu. yah…isinya bukan seperti yang saya harapkan. Saya ditolak, pemirsa. Ugh…nasib nasib.

Surat seperti itu sebenarnya bukan yang pertama. Berbulan – bulan yang lalu, entah kapan, saya juga pernah dapat yang serupa. Hanya saja perusahaan dan gaya penulisannya beda. Tapi intinya tetap saja sama. Mereka sepakat bahwa saya belum memenuhi kualifikasi untuk posisi yang saya pilih. *sigh*

Sedih?

Tentu tidak. Aneh yah. Nggak tahu kenapa saya nggak merasakan apapun. Yang ada tuh biasa aja perasaannya. Kecewa dikit sih iya. Tapi nggak sampai nangis seperti yang kemarin – kemarin.

Apa karena saya dah mati rasa?

Hoho…tentu saja tidak. Mungkin lebih karena surat penolakan seperti ini sudah beberapa kali saya baca. hahahaha…sial benar yah. Tidak bisa bohong pertama kali dapat surat cinta berisi penolakan seperti ini, saya memang sedih banget. koq bisa yah nggak keterima? Di mana yang salah dan di bagian mana yang harus saya perbaiki? Sampai – sampai yang down banget. sampai – sampai toko buku dan games jadi pelarian yang tidak hanya memboroskan waktu tapi juga sukses membuat kantong kering. Hahahaha…Tapi itu cara paling ampuh loh untuk mengobati hati yang terluka. Halah.!!!

Yah, sekarang saya jauh lebih kuat. Setiap kali membaca surat seperti ini kalimat yang kemudian muncul adalah

“ Emang belum rezeki.”

“ Ada tempat lain yang lebih baik yang bakal nerima saya.”

“ Tenang aja, selama masih bernafas, rezeki dari Allah akan tetap ada.”

“ Nyante lah. Di luar sana masih banyak pekerjaan yang membutuhkan saya.”

“ Tetap semangat. Rugi tuh perusahaan nggak terima saya sebagai karyawannya.”

……

dan beribu kalimat lainnya yang membuat pikiran dah hati saya bisa berdamai dengan keadaan. Fuh…

Walau begitu, sampai sekarang saya tetap berdoa, suatu hari nanti surat yang saya terima bukan lagi surat-surat refusal, denial ataupun declination seperti ini. Namun sebaliknya. Amien amien amien.



Buku oh Buku Begitu Mahalnya
Juli 18, 2008, 5:19 pm
Diarsipkan di bawah: my days, my thought | Tag: ,

Semua kenaikan harga buku secara tiba-tiba ini tidak lain adalah karena pajak dan harga bahan baku kertas yang naik. Setidaknya itu yang saya dapatkan dari sumber informasi terpercaya.

Tidak heran kalau para orang tua mengeluh ketika harus membayarkan sejumlah uang buku anak – anak mereka setiap semesternya yang berkisar sampai 1.000.000,-. Tentu saja tidak hanya orang tua yang merasakan dampak kenaikan harga kertas. Saya dan bahkan mungkin semua orang pecinta buku juga merasakan hal yang sama. Tidak tanggung – tanggung perubahan harga yang terjadi. Apalagi bagi kami yang tinggal di luar pulau jawa. Harga yang ditempel di belakang buku ditambah lagi dengan biaya ongkos kirim.

Nasib – nasib. Sebagai pekerja serabutan, saya makin merasakan susahnya menjadikan sebuah buku menjadi penghuni rak buku. Tidak hanya karena harus lebih sering kejar setoran. Tapi juga jadi harus makin selektif dalam memilih buku ataupun komik yang bisa dibawa pulang. Tidak hanya membuat List To Buy makin panjang tapi saya juga dengan berat hati akhirnya memutuskan untuk sementara tidak membli beberapa judul komik dan buku. Contohnya seperti Shonen Mags, Shonen Star dan Hanalala, majalah komik keluaran PT Elex Media Komputindo. Yang parah sekarang Death Note, Bleach, Kunimitsu, Gash Bell dan mungkin akan bertambah dengan judul lainnya harus saya hentikan sementara.

Beruntunglah orang – orang yang berada di Pulau Jawa. Karena pesta buku diskon sering digelar disana. Berbeda dengan di kota ini. kalau pun ada itu hanya sekali atau dua kali setahun. Diskon yang berlaku juga tidak banyak. Hanya sekitar 15%. Kalaupun ada yang sampai 50% itu adalah koleksi buku terbitan lama.

Kadang terpikir untuk melakukan pembelian buku online. Tapi ngeliat ongkos kirim, saya jadi berpikir lagi. walau hampir semua toko buku online itu juag sudah memberikan diskon. Dulu sih sering pesan buku dari mereka. Tapi ketika memutuskan untuk jadi pekerja serabutan, melakukan pembelian via internet ini menjadi semakin susah. Hehehe…

Sehingga tidak heran kalau sekarang saya sering ikut lomba resensi yang digelar oleh beberapa penerbit. Selain membuat kemampuan mereview isi buku saya terasah, saya juga bisa dapat buku gratis. ^_^V Walau memang harus bersaing dengan beberapa orang yang juga tidak kalah jagonya. Ga tanggung – tanggung, saingan saya adalah anggota kubugil and friends yang terkenal dengan blog bukunya. Tidak bohong, ada rasa pesimis. Namun saya percaya kalau sudah rezeki nggak bakal kemana. Caio Ally!!!

Mengeluh mungkin tidak akan ada habisnya. Bahkan tidak akan mampu membuat semua harga buku itu turun.. yah setidaknya, sedikit beban jadi berkurang.

Kejar setoran lagi yuk!!!




Congratulation Sist
Juli 18, 2008, 5:01 pm
Diarsipkan di bawah: my days

Setelah seharian 2 hari tanaman saya biarkan tak tersentuh air, akhirnya kemarin sore saya memutuskan untuk menyelamatkan hidup bunga- bunga di pot dari kekeringan. Kalau M dan kakak tahu saya tidak nyiram bunga, omelan adalah hadiah yang akan saya dapatkan. Yah banyak alasan saya tidak melakukan ritual yang tidak pernah absen dilakukan kedua wanita pencinta bunga itu. pertama karena ketiduran dan kedua karena asyik melahap IMPERIA, buku hadiah dari kubugil.

Sementara main air dengan tanaman, ternyata ada telpon masuk ke HP. Sayangnya saya naruhnya di lantai du. Jadi jelas suara Afgan yang nggak pernah bosan menyanyikan Sadis tak terdengar. Begitu ngecek hp yang terlihat dilayar adalah 1 missed call. Nomornya agak asing, 081340674xxx. Karena penasaran siapa yang nelpon akhirnya saya ngirim ke sms. Ga butuh waktu lama untuk mendengar suara Afgan. “ Semoga tuhan membalas semua yang terjadi kepadaku suatu saat nanti..”

Begitu mengucapkan kata hallo, diujung telpon ternyata ada suara perempuan yang agak asing di telingaku

Perempuan Asing (PA; dengan suara yang agak dibuat-buat): “Mbak, Kami dari PT xxx. Kemarin mbak sempat ngirim lamaran gitu ke PO Box xxx. Kami harap kedatangan mbak ke kantor cabang kami untuk wawancara.”

(XXX = telingaku blom terkoneksi sepenuhnya dengan otak. Jadi begitu disebut saya langsung lupa lagi. Kemampuan audioku emang sedikit bermasalah)

Ally: “Wawancara??”

PA: “Iya. Wawancara. Kami harapkan kedatangan mbak besok”

Ally(dengan kening mengkerut akibat alis naik sebelah): “Eh tadi apa nama perusahaannya mbak?”

PA: “Perusahaan Maju Makmur”

Ally(mulai ketawa kecil dan sontak sadar sedang dikerjai seseorang): “Ini sapa? Nama perusahaannya koq jadul banget mbak?”

PA( Ngakak):” Ini kakakmu de’”

Ally: ”halah!!!!”

Kakak: *masih ngakak selama beberapa detik*

***

yah, ga lain nggak bukan yang nelpon tuh kakak-ku, Rahma yang baru saja selesai berjuang menghadapi gempuran para dosen di ruang sidang. Setelah hampir kurang lebih dua tahun belajar di ITS untuk nambah gelar M.Si di belakang namanya, akhirnya kemarin mimpinya jadi kenyataan.

Congratulation Sist.

Walau mengerjai ade’nya menurutku adalah cara melepas ketegangan sedikit aneh.

Kakak sebenarnya jarang ngerjain orang seperti ini. Tapi begitu rasa isengnya datang, tidak tanggung – tanggung. Waktu SD dulu saya pernah dijadikan orang yang menjalankan semua ide gilanya itu. Dari manggil-manggil penjual es serut tanpa niat membeli sampai ngerjain teman sekelasnya lewat telpon. Benar-benar deh. Yang jelas semua itu saya lakukan tanpa ada imbalan.

Begitu duduk di bangku SMP, sel-sel otak saya dah mulai berkembang. Jadi dah bisa milih kalau kakak mulai bertindak konyol lagi. bertaun – tahun berlalu akhirnya tingkah kakak malah berubah drastis. Begitu masuk SMA, kakak yang dulunya tomboy itu memutuskan untuk make kudung.

Dari kecil kakak emang lebih milih main bareng anak cowok. Bahkan penampilannya pun sempat dibuat mirip anak cowok. Rambutnya sering di potong pendek menyerupai gaya rambut anak cowok. Dibandingkan kakak Irma, kakak rahma memang lebih berani. Bahkan tidak jarang nantang mereka untuk berkelahi. Pernah suatu kali, kakak berkelahi dengan anak tetangga. Hasilnya bisa ditebak dari pakaian yang ditutupi dengan lumpur hitam. Singkat cerita ternyata pas berkelahi gitu, kakak di dorong sampai jatuh ke got. Melihat kondisi kakak yang benar- benar berantakan, ga tahu kenapa saya langsung nangis tersedu-sedu. Mungkin karena tidak rela ngeliat orang yang tidak pernah bosan nyeritain dongeng sebelum saya tidur dalam kondisi yang berantakan seperti itu

Sejak duduk di bangku SMA, kelakuan kakak memang berubah. Jadi lebih dewasa. Kakak juga jadi jarang main bareng adiknya yang masih duduk dibangku SD. Tidak seasyik dulu lagi. Bahkan kakak mulai sering ngelarang ini itu. Sehingga tidak jarang pertengkaran – pertengkaran kecil terjadi hanya gara – gara masalah sepele.

Semua itu berlanjut sampai ketika akhirnya kami bertiga pindah ke Makassar dan tinggal terpisah dengan M dan D. Kekuasaan kakak makin besar. Sebagai pengganti orang tua, aturan yang diterapkan kakak makin ketat. Termasuk pembagian tugas pekerjaan rumah. tidak jarang saya dapat omelan karena membiarkan kamar berantakan dengan buku – buku atau hanya karena lupa giliran nyapu ataupun ngepel. Di antara omelan – omelan itu adalah beberapa hal seru yang kami lakukan bersama. apalagi kalau bukan belanja, makan, nonton dan masak bareng. Yah, rasionya seimbanglah dengan pertengkaran-pertengkaran kecil. Tidak hanya dengan kakak rahma sih, kakak irma juga sering.

Rumah masih rame dengan suara – suara kami sampai pertengahan tahun 2003 ketika kakak memutuskan untuk kembali ke kendari karena pekerjaan. Sampai akhirnya benar-benar sepi sampai di akhir tahun 2007 karena kakak Irma juga akhirnya pindah ke Malili. Kalau dulu sering kesal ma selalu jadi sasaran omelan kakak, sekarang saya benar – benar kangen ma semua masa itu. walau masih sering telpon ataupun sms-an, tapi tetap saja ada yang beda.

Jadi ingat kata Mr D, Saudara, kalau berdekatan, baunya menyengat. Tapi kalau sudah terpisah jauh, wangi banget. fuh…jadi beneran kangen



Nulis Ah, Nulis Yuk, Nulis Dong
Juli 18, 2008, 4:46 pm
Diarsipkan di bawah: me me me, my days, my thought

Posting seposting postingnya. Itu istilah dari anak-anak THBB untuk kelakuan seseorang secara tiba-tiba ngereply semua thread, termasuk yang sudah basi sekalipun, yang ada di buletin board setelah sekian lama tidak login. Hal itulah yang akan saya lakukan. Setelah sekian lama tidak posting di blog ini karena sakit, maka hari ini saya akan mengeluarkan semua draft tulisan yang selama ini hanya tersimpan di benak dan folder di komputer usang di rumah. Yah, memang sedikit kewalahan karena kecepatan ide-ide yang mengalir tidak sebanding dengan kecepatan tangan saya untuk menuliskannya. Untuk masalah yang satu ini saya memang agak malas.

Padahal saya tahu betul, bahwa hanya dengan menulislah pikiran saya bisa dinetralisir dari semua hal yang rasanya tidak pernah berhenti berkeliaran. Namun apa daya, sering kali saya menyalahkan ini dan itu untuk semua bangkai – bangkai ide yang berserakan.

Yah, memang sering sebuah ide akhirnya berguguran tanpa pernah melihat sinar matahari. Tidak tersedianya kertas dan alat tulis di sekitar juga yang membuat saya sedikit malas untuk menumpahkan semua isi kepala. Tidak jarang hal yang menghalangi saya untuk menulis adalah mood yang sedang tidak dalam kondisi fit untuk diajak kerjasama. Selain itu juga dikarenakan saya selalu ingin langsung menuliskannya di komputer dan menulis sementara di kertas tidaklah efisien. Namun begitu menyalakan komputer, hal yang saya lakukan pertama adalah membuka aplikasi game. Bahkan kalau sudah keasyikan, tak satu kata pun yang akhirnya berhasil saya tuliskan.

Soal games, saya memang sudah kecanduan. Tidak perlu bertanya jenis game apa yang saya mainkan, yang jelas merekalah salah tempat pelarian saya ketika pikiran saya lagi kalut. Bahkan ketika stuck dengan salah satu draft postingan baik tulisan konyol ataupun review buku, otomatis saya langsung mengaktifkan salah satu dari mereka. Apakah mereka membantu ? sama sekali tidak. Karena pikiran saya seluruhnya terkonsentrasi bagaimana menyelesaikan. Sehingga begitu kembali pada draft yang saya tinggalkan tidak ada satupu hal baru. dan sering akhirnya mereka hanay berupa draft yang tidak kunjung selesai. Fuh…kadang –kadang saya berpikir alangkah baiknya jika game-game yang ada dikomputer tua ini didelete saja. Sehingga ketika duduk di depan komputer saya bisa memusatkan konsentrasi. Namun tidak sekalipun semua rencana itu saya lakukan. Karena saya tidak bisa membayangkan jika komputer yang seharusnya dimasukkan museum ini beroperasi tanpa ada game di dalamnya. Walau yang ada hanyalah game game keluaran GameHouse. :P

Mungkin sudah saatnya lebih disiplin dalam menulis. Keterbatasan yang ada di depan mata tidaklah pantas untuk dijadikan alasan. Sepanjang masih ada kertas kosong dan pen ataupun pinsil, semua ide yang berseliweran di kepala tetap bisa di transfer di atas kertas sebelum semua menghilang tanpa bekas.

Seperti yang dikatakan Bud Gardner yang juga ada dalam buku Chicken Soup For The Writer Soul. “Ketika Berbicara, Kata-Katamu Hanya Bergaung Ke Seberang Ruangan atau Di Sepanjang Koridor. Tapi Ketika Menulis, Kata – Katamu Bergaung Sepanjang Zaman”..

Nulis yuk…