my thought

Badai pasti Berlalu







Beberapa hari lalu dengar lagunya yang diaransemen (eh benar jie tulisannya?) ulang. Kalau dibandingkan ma lagu yang sebelumnya , Ally lebih pilih pas dinyanyikan ma Chrisye. Entah kenapa, sekarang vokalnya Ari terdengar aneh sekali. Beda banget pas dia masih gabung di dewa dan melantunkan semua lagu yang ada di album Terbaik- Terbaik. Jadi ingat jaman sd. Ada Restu Bumi, Bukan Siti Nurbaya dll. Di album Pandawa Lima juga masih ok. Yang Mungkin sekarang selera musik dah beda.

Kalau lagunya diaransemen ulang, gimana dengan filmnya. Apa filmnya juga film lama. Ally ga pernah ingat ada film indonesia jadul yang judulnya gitu. Kalau sinetron sih ada. Kalau ga salah aktornya tuh Ryan Hidayat, the late. Eh benar ga sih? *searching the answers in my memory

Clueless….

Badai pasti berlalu, tiga kata yang dulu sering banget aku ucapkan pas gi menghadapai sesuatu. Pr yang numpuk, Ujian Praktek maupun masalah pribadi. Setelah ngucapin itu pasti teman teman langsung nambahin, “iya badai pasti berlalu, tapi liat keadaaan sekitar pas badainya dah pergi. Porak poranda kan?”. Waktu itu cuman bisa senyum simpul. Yah waktu sekolah dulu ga pernah mikir sampai sejauh itu. Soalnya “Badai Pasti Berlalu” cuman sebagai pernyemangat. Lebih nggak.

Sekarang dah jarang banget memotivasi diri sendiri dengan kata kata seperti itu. Karena mungkin dah merasuk di setiap aliran darah yang menujuk otak. Jadi ga perlu diucapin lagi. Hehehehehehehe….

Badai…kalau ngeliat ke belakang….cara yang aku tempuh untuk menghadapinya tuh super duper aneh. Seringkali tuh dengan masang shield yang tebal banget, dan nulis dngan huruf kapital “ Even donkey won’t fall in sameh hole”. Walau emang berhasil survive tapi pas ngeliat sekeliling, ternyata banyak orang yang terluka dengan sikap seperti itu. Yah mungkin emang kecakapan dalam berpikir dan mengambil tindakan yang masih kurang. Bahkan terkesan kekanakan. Dulu sih masih bisa nanya sana sini. Setidaknya bisa ngebantuin, tapi sayang semua yang dulu jadi spirit source dah ga punya waktu untuk itu. Akhirnya menghadapinya dengan apa yang udah ada di kepala. Fuh…. Menjadi tua itu pasti, tapi untuk dewasa itu pilihan. (thanks to arashi).

Kalau terus seperti ini, apa mungkin bisa survive untuk badai berikutnya?


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s