my days

My first (and last?) photography class


Hari sabtu kemarin (26/01/08), untuk pertama kalinya Angingmammiri.org(AM) mengadakan Pelatihan Dasar Fotografi kerjasama dengan PERFORMA( kepanjangannya apa yah? Perkumpulan Fotografer Makassar? ) dan saya adalah salah satu pesertanya.

Pengumuman ini sudah diposting di portal beberapa minggu sebelum hari H. Awalnya saya tidak begitu ngeh, apalagi karena selama ini kalau berurusan dengan foto, obyeknya paling tidak kucing-kucing “gila” dan tentus aja diri sendiri (hihi…). Itupun diambil dari kamera HP yang kualitasnya tidak begitu bagus. Tapi setelah baca beberapa email, SMS dari rara dan PM dan ina, akhirnya saya memutuskan untuk ikut. Tidak ada salahnya untuk nambah ilmu sekalian ketemu ma member AM. Hari sabtu kemarin kegiatan disekolah juga ‘diliburkan’. Sip!!!

Jam 9.30, saya tiba di bibliholic. Rara, Anie dan beberapa pemateri sudah ada. Untungnya acara belum dimulai. Hehehe…selamat-selamat. Sambil menunggu anak AM lainnya, Rara memperlihatkan beberapa foto hasil jepretannya. Hmmm.. tidak heran kalau juara lomba foto beberapa bulan lalu diberikan pada ketua ErTe AM ini.

Satu persatu member AM datang. Ira, Ntan, Mamie, Ina, Om Dey, Putri, Jul, Prof Mus, Asri, etc(lupa dan tidak tahu, gomen ne) lengkap dengan kamera digitalnya masing masing. Entah jarum panjang menunjuk pada angka berapa, akhirnya acara dimulai.

Materi pertama berkaitan dengan sejarah kamera. Perkembangan kamera dari yang masih pake bubuk mesiu (banyak difim –film lama)sampai kamera dengan lensa yang panjang seperti yang ditenteng ma wartawan bola. Bagaimana dengan foto-foto yang dihasilkan oleh para fotografer yang mampu membawa perubahan terhadap dunia. Ada satu foto yang diambil saat perang Vietnam berkecamuk beberapa puluh tahun lalu, yang mengingatkan saya dengan buku sejarah. Bahkan disesi ini saya baru tahu kalau ada fotografer yang akhirnya bunuh diri karena hasil fotonya sendiri. Tragis.

Saya jadi semakin kagum dengan wartawan perang yang selalu memberikan foto-foto terbaiknya. Padahal pada saat yang sama jiwa mereka juga terancam. Dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di sesi ini saya tau perbedaan antara film negatif dan positif. Satu yang tidak kalah penting, ternyata harga kamera bisa mencapai sampai 400an juta. Mendengarnya yang terpikir kepala saya, berapa banyak buku yang bisa saya dapatkan dengan uang sebanyak itu. hihihi…

Sesi kedua, masuk kebagian teori. Dari bagian-bagian kamera sampai komposisi dibahas disesi ini. Walau banyak sekali istilah baru, namun pemateri bisa membuat beberapa peserta mengangguk dan berguman tanda mereka mengerti. Saya sendiri harus beberapa kali mengecek pemahaman saya ke Ina tentang “diafragma” maupun tentang “speed. Hihihi.. Jadi begitu melihat foto foto dari National Geographic yang disediakan panitia, saya dengan mudah menilainya dari kedua point tersebut.

Materipun berlanjut ke bagian komposisi. Saya baru tahu bahwa suatu obyek tidak harus berada ditengah tengah. Hmmm…bagian ini masih agak membingungkan. Walaupun sudah berkali kali dijelaskan. Kalau disodorkan beberapa gambar dan diminta untuk menilainya dari segi komposisi, bisa dipastikan saya tidak bisa berbicara banyak. Hehe…maaf untuk pemateri. Kayaknya saya butuh extra class.

Setelah istirahat untuk shalat dan makan siang, akhirnya bagian yang ditunggu –tunggu tiba. Waktunya pengambilan gambar. Sayangnya kamera yang disediakan panitia hanya beberapa. Jadi Ally tidak kebagian. Hehehe…ga masalah. Soalnya saya memang lebih pilih jadi model dibandingkan fotografer (hehehe…jangan narsis dong!!)

Beberapa puluh menit mengabadikan benda apa saja yang ada disekitar halaman bibliholic, akhirnya semua foto – foto dikumpul dan diberi penilai tersendiri oleh para expert. Penilainnya tidak jauh-jauh dari teori, jadi saya masih bisa mengerti kata-kata mereka. Tapi masih saja tidak mengerti begitu membahas mengenai komposisi, hehehe…

Sayangnya saya tidak bisa ikut sampai semua foto-foto itu dibahas.

Over all, it’s fun.

Advertisements

2 thoughts on “My first (and last?) photography class

  1. Beberapa kawan, menghindari komposisi dengan object ditengah. Mereka bilang dead center. Dan nampaknya memang lebih bagus untuk ada sedikit digeser kepinggir. Yuk motret !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s