me me me · my thought

Pidi Baiq; One of Brave Men Ever

mysterious man

Pidi Baiq.

Tahu siapa dia?

Nggak kan?

Hihi..kemana aja?

Yee..jangan langsung nanya ma om Google gitu dong apalagi sambil pasang muka cemberut seperti itu.

Tenang-tenang! Anda tidak sendiri.

Pidi Baiq bukanlah seorang “pakar” terkenal yang dengan sekali pandang bisa menyatakan kalau suatu foto itu rekayasa atau bukan. Beliau juga bukan salah satu orang yang puisinya masuk ke 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 yang beberapa hari lalu sempat membuat saya sedikit pening. Bukan pula salah satu selebritis yang tidak capek –capeknya muncul di infotainment ataupun masuk di jajaran penjabat yang dicurigai menerima suap. Yah, wajar saja kalau kalau banyak yang tidak bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Hihi…

Saya juga tidak akan tahu pria yang dulunya dekan ini kalau tidak karena catatan-catatan hariannya dikumpulkan dan diterbitkan jadi buku. Judulnya Drunken Monster Hebat!!! Satu lagi blog yang dibukukan. Hmmm…Kapan yah giliran saya? Hahaha…mimpi kali ye…

Buku yang dihadiahkan kakak saya secara tidak langsung ini (kakak ngasih beberapa lembar kertas berharga, saya yang milih bukunya), memang sudah saya incar sejak pertama kali muncul di deretan buku baru di Gramedia MARI beberapa pekan lalu..

Dalam beberapa jam buku itu berhasil saya lahap. Hanya satu kata untuk bapak yang satu ini. ANEH. Bagaimana tidak, dari 18 cerita yang dimuat , hampir semuanya menggambarkan tingkah lakunya yang tidak wajar. Tanpa pandang bulu, siapa saja akan jadi “korban” kejahilannya. Dari tukang becak sampai tukang ojek, dari tetangga, karyawan dikantor miliknya.bahkan orang yang pertama kali ditemuinya. Tidak percaya? Coba saja baca sendiri.

Namun dari semua keanehannya itu, saya benar-benar kagum dengan keberaniannya. Tanpa malu-malu, beliau mengayuh becak, menggantikan posisi supir angkot, dan tentu saja bapak ini berani bertegur sapa bahkan mengerjai orang-orang yang sama sekali tak dikenalnya.

Ingin rasanya meminjam sedikit keberaniannya. Tidak untuk menjahili orang –orang yang baru saya kenal. Bukan. Saya hanya butuh sedikit kekuatan untuk menegur penumpang yang seenak perutnya menghembuskan asap beracun di angkot saja saya tidak berani. Sehingga paru-paru saya yang malang pun dengan terpaksa saya biarkan tercemari. Bahkan ketika melihat asap itu juga dihirup oleh seorang bayi, saya tidak mengatakan apa apa. Yang paling parah adalah ketika abu rokoknya itu bertebaran ditiup angin dan beberapa jatuh mengotori baju dan kudung, sata tetap diam seribu bahasa. Arghhhhh…..I’m sure there’s something wrong here. Any doctor out there?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s