my days · my thought

Sepekan berlalu

Tidak terasa sudah sepekan sejak kelas tempat saya belajar banyak hal selama setahun berakhir.
Bukan karena sekolah kena proyek penggusuran. Tapi karena guru yang tidak pernah lelah meluangkan waktunya untuk murid – muridnya itu akhirnya meninggalkan Makassar.

Otomatis semua berubah. Dari hilangnya internet gratis sampai schedule setiap harinya. Dan tentu saja kehilangan sosok guru yang selama ini sudah saya anggap sebagai orang tua.

Sepekan ini rasanya benar benar aneh…
Serasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya

Setahun yang lalu saya memutuskan untuk balik ke sekolah (SMK Telkom Sandhy Putra 2). Setelah sepekan sebelumnya resign dari tempat kerja saya selama lebih dari 2 tahun 8 bulan. Banyak alasan mengapa saya mengambil keputusan yang resikonya banyak. Salah satunya jelas menyangkut pemasukan setiap bulannya yang hilang secara drastis. Namun keputusan saya sudah bulat. Saya sudah membicarakannya dengan M dan D. Begitu juga dengan pertimbangan kedua kakak perempuan. Saya tahu mereka menyayangkan keputusan itu. Untungnya mereka mengerti ketika saya mengutarakan semua alasannya.

Kembali ke sekolah bukan berarti saya mengajar seperti yang disangka oleh beberapa orang. saya benar-benar belajar. Bukan berarti masuk kelas seperti biasa. Saya bersama alumni yang lain belajar di ruang Pak Denny, Wakil Kepala Sekolah. Awalnya saya sempat ragu, karena ingatan terakhir saya, Pak Denny tuh orangnya yang disiplin banget, yang jarang ngasih wajah ramah ke murid-muridnya dan tentu saja tidak pernah mentolerir sedikitpun pada murid – murid yang menyontek. Tidak tanggung-tanggung, kertas jawaban tuh bisa di robek sampai jadi serpian kecil. Namun ternyata saya salah, karena saya memang tidak benar benar mengenal sosok bapak yang selalu meluangkan waktunya untuk mengisi kelas kosong. Sepekan belajar banyak hal di ruangan Pak Denny bersama kakak Eqhie dan Yuyun (miss you gals >_<) pandangan saya berubah.

Tidak ada hari tanpa ilmu baru. itu prinsip yang diajarkan Pak Denny kepada semua anak bimbingannya. Tidak sedikit dorongan semangat yang ditularkan. Bahkan beliau selalu menyakinkan kami bahwa kami pasti bisa meraih semua yang kami inginkan. Sampai sampai lagu Aku Bisa dari AFI Junior jadi lagu yang terdengar diruangan yang tidak begitu luas itu

Kadang ku takut dan gugup
Aku merasa ooo tak sanggup
Melihat tantangan di sekitarku
Aku merasa tak mampu
Namun ku tak mau menyerah
Aku tak ingin berputus asa
Dengan gagah berani aku melangkah
Dan ternyata aku bisa
Aku bisa Aku pasti bisa
Ku terus terus berusaha
Bila ku gagal itu tak mengapa
Setidaknya Aku tlah mencoba
Aku bisa Aku pasti bisa
Ku tak mau berputus asa
Coba terus coba
Sampai ku bisa
Aku pasti bisa

Bisa dibilang ini lagu kebangsaan anak-anak bimbingan Pak Denny. Setiap ada alumni baru yang datang, kami semua pasti menyemangatinya dengan lagu ini. It works well.

Banyak hal yang kami pelajari. Dari mengubah pola pikir, ESQ, sampai hal – hal yang berkaitan dengan Alam bawah sadar dan bagaimana mengoptimalkannya. Semua alumni yang pernah belajar di ruangan kecil itu tahu benar betapa banyak ilmu yang telah diberikan oleh beliau. Walau tak jarang beberapa dari kami melupaka nbeberapa hal – hal kecil hanya karena lalai dalam mencatatnya. Termasuk saya sendiri.( I’m so sorry).

Tak hanya belajar di ruangan, Pak Denny sesekali mengajak kami belajar di luar. Yang paling berkesan adalah sewaktu beliau mengajak kami ke Pantai Losari. Sesudah shalat magrib di Masji Anshar, tiba-tiba tanpa direncanakan beliau membeli kecrekan dan tam tam. Kami (kakak Eqhie, Yuyun + Abang, Aljin, Rahma, Lutfi, tidak ketinggalan saya) disuruh ngamen. Saat itu Lutfi (SMIP 13) juag membawa gitar. Lengkap sudah perlengkapan untuk ngamen. Pertarungan pun dimulai.

Tidak sedikit orang yang menolak namun tak jarang orang yang membiarkan kami menyanyikan satu sampai dua lagu. Kesimpulan hanya satu. Ngamen itu tidak mudah. Bukan hanya karena tidak siap dengan lagu-lagu ngamen namun kami semua harus melawan rasa malu. Ketika akhirnya acara ngamen kami selesai, uang yang terkumpul sekitar 7500,- yang akhirnya kami berikan kepada para pengamen yang sebelumnya telah menyanyi beberapa lagu untuk kami yang saat itu merasa kelelahan. Terlepas dari semua rasa lelah, ada kebanggaan tersendiri setelah menyelesaikan pelajaran malam itu.

Seiring berjalannya waktu, banyak alumni yang datang dan pergi. Ada yang pergi karena akhirnya pindah ke kota lain karena alasan kuliah ataupun mendapatkan pekerjaan di satu perusahaan. Saya sendiri pernah beberapa kali nyaris meninggalkan ruangan kecil itu, namun karena satu dan lain hal saya akhirnya kembali belajar lebih banyak hal baru lagi.

Kakak Ephie, Endah + Penny + K’ Acha, Ila, Risma, Kifa, Fadje, Dila, Indri adalah teman baru saya di beberapa bulan belakangan ini, di susul terakhir oleh Opiek, Agung, Ikram, dan Mega, beberapa pekan sebelum kelas ini benar benar berakhir.

Berakhir?

Sekarang ruangan kecil itu dihuni oleh orang lain. Pak Denny akhirnya pindah ke Jakarta. Beliau di tempatkan di AKATEL sebagai Direktur Utama. Ketika pertama kali mendengarnya, saya benar benar terkejut. Begitu berita itu tersebar ke semua anak bimbingan, tidak ada yang tidak menyayangkan kepindahan beliau. Namun saya tidak hentinya mengingatkan mereka, bahwa ini adalah hal yang terbaik bagi kami semua. Yah, kepindahan ini sudah menjadi doa Pak Denny sejak lama. kami tidak boleh egois. Walau memang ada rasa kehilangan yang besar. Tidak hanya karena kehilangan sosok guru sekaligus figur yang kami anggap sebagai Ayah kedua, namun kami juga tahu bahwa kebersamaan kami, anak – anak bimbingannya, akan perlahan lahan hilang.

Rasanya ucapan terima kasih tak akan pernah cukup membalas semua kebaikan Pak Denny.
Sepekan terakhir sebelum beliau meninggalkan Makassar, ruangan kecil itu tak pernah sepi. Karena kami semua tahu bahwa kesempatan ini tak berulang. Bahkan kakak Eqhie selalu meluangkan waktunya untuk datang. Bahkan Nita (Stelk 8th) memutuskan untuk cuti selama sepekan dari kantornya di pare-pare.

Hari selasa ini tepat sepekan lebih, Pak Denny pindah ke Jakarta. Selama itu pula kami anak bimbingannya layak seperti anak ayam kehilangan induknya. Walaupun kami berkomitmen untuk tetap menjaga tali silaturahim, namun kenyataannya tidak semudah diucapkan.

Advertisements

6 thoughts on “Sepekan berlalu

  1. kalo aku yang jadi gurunya gimana???^_^ cori bercanda, sabar ja Ally,b’coz setiap pertemuan pasti tentunya juga ada perpisahan,emang kita tidak mengharapkan perpisahan terjadi (bila itu mempunyai kesan tersendiri/kita sukai),tapi lain lagi.kita berharap perpisahan tu terjadi( bila itu sngat tidak berkesan / tidak kita suka). (^_^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s