my thought

Jalan – Jalan Ke Luar Negeri? Hmmmm…

Sudah pernah? Kapan? Ke mana saja?

 

Kalau disodori 3 pertanyaan di atas, hanya pertanyaan pertamalah yang akan saya jawab dan hanya dengan satu jawaban semua tiga pertanyaan tersebut bisa terjawab. Hahaha…jelas saja. Karena jawaban saya adalah BELUM.

 

Sebenarnya tidak perlu jauh – jauh ke luar negeri, puluhan propinsi di Indonesia saja belum semuanya saya datangi. Hihihihi…

 

Yah, kesempatan dan kemampuan belum datang. Jadi wajar saja kalau sampai umur segini saya hanya bisa menikmati cerita –cerita orang lain melalui artikel di koran, buku, blog maupun di TV( sebelum antenanya rusak)

 

Semua acara tv yang berisi petualangan itu pasti akan saya nonton sampai habis. bahkan semua cerita – cerita yang ada di koran dan blog akan saya lahap mentah-mentah. Salah satu blog favorit saya adalah milik mbak Elok, wartawan lepas yang artikelnya sering muncul di Harian Kompas. Dalam waktu setahun ia bisa mengunjungi beberapa negara. Kadang saya ingin bertanya, bagaimana bisa ia bisa dengan mudah berpindah dari satu negara ke negara lain. Walau untuk bertanya langsung saya agak sedikit segan. Saya pun langsung menarik kesimpulan bahwa pekerjaanlah yang membuatnya bisa melakukan kunjungan – kungjungan ke tempat – tempat yang menarik itu.

 

Sebagai oleh – oleh ia tak pernah lupa menuliskan beberapa catatan kecil dan puluhan foto. Seakan tak pernah bosan melihat gambar – gambar itu. puas dengan postingan mbak Elok saya pasti mengucapkan kalimat yang sama, kapan yah bisa main ke sana?

 

Dari mbak Elok, saya pindah ke petualangan Gama Harjono. Tidak seperti mbak Elok, Gama Harjono hanya menuliskan petualangannya di Italia. Melalui bukunya Ciao Italia, saya kembali ikut bertualang. Pada bab awal, Gama bercerita bagaimana besar cintanya pada negara dengan bendera hijau putih merah itu. Bahkan perjuangannnya untuk bisa sampai ke Itali tuh membuat saya jadi miris. Karena satu lagi orang membuktikan bahwa mimpi itu tak hanya untuk disimpan tapi untuk diwujudkan.

 

Negara yang hanya saya tahu terkenal dengan Liga Calcio, Menara Pisa, Colloseum, Pizza, Keju, Gondolla dan Gladiator ini ternyata punya banyak tempat menarik. Saking banyaknya, saya sampai tidak bisa mengingat nama-nama tersebut. bangunan – bangunan yang diperlihatkan Gama juga nggak kalah banyak. Sayangnya nggak semua foto itu berwarna seperti punya mbak Elok. Tapi dilembar terakhir saya sadar bahwa kalau foto –foto itu semua berwarna, harga bukunya pasti makin mahal. Hehehe…

 

Yang menarik dari perjalanan Gama adalah karena ia tidak hanya sekedar berkunjung alias jadi turis seperti mbak Elok. Gama malah meluangkan waktu selama setahun di negeri yang juga punya empat musim. Jadi saya bisa tahu bagaimana kehidupan orang itali, gaya hidupnya, bahkan sampai sistem birokrasi yang setali tiga uang dengan Indonesia. Khusus kasus di indonesia, saya memang tidak pernah mengalami langsung, saya hanya dengar dari keluhan beberapa orang yang mengurus paspor ataupun ijin tinggal di negeri ini loh.

 

Tak lupa Gama juga bercerita tentang makanan dan minuman di Itali. Hampir setiap kali membicarakan makanan, pasti di dalamnya ada keju. Yummy. Sebagai penggemar keju, sepertinya makanan-makanan khas itali sepertinya cocok dengan lidah saya (halah!). Walau begitu melihat foto-foto makanan, tidak satupun yang mengundang selera. Mungkin karena cara penyajian yang memang tidak semenarik makanan – makanan di buku resep.

 

Berpindah ke minuman, ternyata ada satu tempat di daerah Itali yang semua penduduknya gemar banget minum kopi. Denagn rinci Gama menuliskan semua jenis kopi yang ada. Yah mungkin bukan hanya penduduk di daerah itu, tapi sebagian besar dari warga Itali memang doyan ma Kopi.

 

Selain kopi, tidak ketinggalan yang namanya Wine. Rasanya setiap makan, minuman ini wajib ada.

 

Masih banyak lagi cerita Gama tentang Itali yang tidak mungkin saya ceritakan kembali di sini. Buat yang punya rencana untuk main – main ke negera ini suatu hari nanti, buku Gama bisa dijadikan salah satu rujukan.

 

Selesai bertualang bersama Gama, saya tiba-tiba ingin mendengar satu dua patah kata dalam bahasa Itali. Setiap judul babnya di tulis dalam bahasa itali, ada artinya, tapi saya ingin tahu bagaimana cara membacanya. Yah, saya belum berminat untuk mempelajari bahasanya, karena bahasa Jepang dan Jerman yang saya pelajari saja masih kacau. Saya tidak mau menimbulkan kekacauan di otak saya dengan kosa kata baru yang cara pengucapannya berbeda dengan apa yang cara menulisnya. Ugh…

 

 

. *Lift my hand and Pray* Semoga suatu saat saya juga bisa mengikuti jejak orang – orang beruntung seperti mbak Elok dan (mas, uda, akang, om, bapak) Gama ataupun ratusan bahkan ribuan orang diluar sana yang sudah melangkahkan kakinya ke luar negeri. Amien

 

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Jalan – Jalan Ke Luar Negeri? Hmmmm…

  1. mau keluar negeri Gampang… pergi aja ke Timor Barat deket perbatasan Timor Timur; ijin sebentar injakan kaki lewat perbatasan; sudah deh sampe diluar negeri 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s