#blog31hari · me me me

Let’s make tea, not war.

Saya suka teh. Nggak peduli  pagi, siang, sore atau malam, pasti buat. Untuk nemenin baca buku,  karena gi sakit perut  dan lebih sering karena pengen aja.Walau gitu saya tidak mengkategorikan diri sebagai penggemar fanatik yang berburu semua rasa teh yang ada. Seumur-umur cuman pernah minum beberapa. Dari  yang diseduh sampai yang dicelup, dari yang kemasannya kotak sampai botol, dari teh cap Gunung Mas sampai teh (cap) Naga.Yang terakhir itu baru nyesap kemarin. Rasanya lumayan. Benar-benar kerasa bedanya ma teh celup yang biasa kuminum tiap pagi.

Dari obrolan di YM! ma teman yang suka banget ma teh dan emang selalu berburu rasa baru, hasil nanya ma om google sampai baca manga Black Butler, saya jadi tahu kalau di luar sana masih banyak banget jenis teh. Baik dari rasa, warna maupun cara penyajian. Nggak kalah kali yah ma berbagai jenis kopi.

Setelah membiarkan darahku teracuni kafein dari teh (cap) Naga, jadi kepikiran untuk nyoba teh yang lain. Mungkin kalau ke supermarket nanti ga langsung ngambil teh yang biasa. Belinya yang ukuran kecil aja. Jadi kalau rasanya aneh toh belinya cuman dikit. hehehehe

Jadi penasaran ma Earl Grey Tea. Rasanya seperti apa yah. Setiap kali blogwalking atau baca buku pasti mereka bilang, kalau rasa teh ini nikmat banget. Semoga suatu hari nanti nemu 😉

Image credit: dreamstime.com

Advertisements

6 thoughts on “Let’s make tea, not war.

  1. we should have a tea together sometimes 😉

    Earl Grey yang pernah saya coba itu yang dari Twinnings, tapi ternyata teh melati seduh tetap jadi yang terbaik yang pernah saya cicipi. *dasar wong jowo* XD

  2. Earl Grey tuh dasarnya sih, daun teh dikasih minyak sejenis jeruk, jadi ya kayak teh campur sedikit rasa jeruk, gak sekuat rasa lemon tea.

    Sama… pendapat pribadi sih, lemon punya lebih “cerah” dan “tajam”, kalau yang jeruk lebih “dalam (warna)” dan “berat” asemnya ^^;

  3. pernah ketemu bule dari Swedia. dia cerita pas teman2nya tau dia mau ditugaskan di Indonesia teman2nya pada ngiri, katanya : wah kamu asyik, tiap hari bakal minum teh yang enak di sana. karena katanya teh Indonesia terkenal banget di luar.
    pas si bule udah di sini, eee..dia heran koq teh yang di sini gak seenak teh2 dr Indonesia yang diekspor ke Eropa ?

    sy bilang : ya iyyalah..teh yg enak pasti dikirim ke luar negeri jadi yg tinggal di dalam negeri ya teh yg asal aja, teh sisa2..hehehe

    1. Seperti cerita Tintin di Sovyet ya.

      Rakyat kelaparan karena gandum kita sudah hampir habis, tinggal persediaan gandum propaganda untuk dikirim ke luar negeri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s