25 November 2009
Ulang Tahun AM yang ke III. Hari itu juga, tepat sembilan bulan, dua minggu, sejak http://bacaan-ally.blogspot.com, blog hijau itu saya biarkan beku. Tak ada lagi postingan setelah ulasan singkat buku Darren Shan 11. Jika blog buku itu diibaratkan sebuah rumah, setiap sudutnya telah dipenuhi debu tebal. Sarang laba-laba dapat ditemi di mana-mana. Tidak ketinggalan bau yang tidak menyenangkan. Yang lebih mengerikan lagi tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Miris rasanya setiap kali berkunjung ke blog itu. Apalagi begitu melihat komentar “tidak pernah diupdate lagi” . Tsk
Tanya Kenapa?*
Sibuk dengan kerjaan tentu saja tidak bisa dijadikan alibi. Saya masih punya waktu senggang. Bahkan sabtu minggu sama sekali tidak ada kegiatan kantor. Toh blog buku dengan header kucing di atas tumpukan buku itu saya mulai saat masih berkecimpung di dunia yang membutuhkan perhatian dan energi yang jauh lebih besar dibanding dengan pekerjaan yang sekarang. Saat itu saya masih punya banyak waktu menulis. Bahkan untuk sekedar nulis hal-hal tidak penting yang terlintas dipikiran pun masih bisa saya lakukan. Namun sekarang untuk melakukan kedua hal tersebut bukan hal yang gampang. Semua tulisan akhirnya berakhir jadi draft dan tersimpan rapi di salah satu folder. Menyedihkan.
#Pengakuan
Baiklah. Alasan di balik semua masa vakum yang dialami si hijau, lebih karena saya menemukan banyak mainan baru. Sebenarnya tidak benar-benar baru, karena saya telah mengenal facebook akhir 2007, plurk dan twitter pertengahan tahun 2008. Sedangkan yang terakhir, Jaiku, Meme, Tumblr memang baru saya temui di tahun 2009. Saya akui ada sesuatu yang membuat saya sedikit kencanduan. Terlebih lagi dengan kemudahan mengakses dari ponsel, kapan saja, di mana saja. Beberapa tahun silam beberapa jaring sosial sudah ada, namun semuanya tak mampu mengalihkan perhatian. Review demi review muncul di blog hijau. Namun sekarang kondisinya berbeda
Kalau orang-orang cenderung tertarik dengan kemudahan untuk mengupdate status ataupun berhubungan dengan ribuan orang, lain halnya dengan saya. Facebook tidak lain tidak bukan adalah kumpulan beragam game yang seru. Tidak banyak jejaring sosial seperti ini, yang perkembangannya sangat pesat dan seakan tidak pernah berhenti. Hampir semua game aplikasi yang ada telah saya coba dan itu jelas sangat menyita waktu. Waktu senggang yang seharusnya dapat saya gunakan untuk menulis malah habis untuk mengurusi puluhan aplikasi itu.
Mikro blogging
Layanan ini sendiri memberikan banyak kemudahan. Dari menuliskan sesuatu yang saya pikir dan rasakan, baik itu hal yang penting (menurut saya) sampai hal-hal yang menurut beberapa orang mungkin hanya sekadar sampah. Tapi karena itulah Plurk, Twitter, Meme ataupun Jaiku diciptakan. Walau terbatas hanya dengan 140 karakter, tidak menjadi masalah. Malah jadi keistimewaan tersendiri. Belum lagi respon yang saya dapatkan jauh lebih cepat dibandingkan dengan postingan di blog. Membahas masalah komentar di Blog, saya tidak mengejar itu. Karena dari awal ketika memutuskan untu menulis review buku, semuanya, lebih untuk diri saya sendiri. Selain memudahkan saya untuk mengingat isi buku dan tidak perlu membaca ulang, saya juga ingin berbagi ke orang – orang di luar sana, betapa serunya buku yang saya baca ini. Sayang, semangat itu perlahan redup.
Blog Hanya Trend Sesaat
Kalau dibiarkan terus menerus, akankah kata-kata pakar telematika itu akan jadi kenyataan? Saya masih ingat betul , saat empat kata itu ramai dibicarakan orang. Saya adalah salah satu orang yang dengan lantang berkata TIDAK!!! Tapi kalau melihat kenyataanya sekarang, nampaknya saya adalah salah satu orang yang akan membuat kalimat itu menjadi kenyataan.
Tidak Semua Blog Beku
Namun jika melihat keluar, rasanya itu hanya terjadi pada saya dan segelintir blogger. Karena masih banyak yang sampai sekarang masih bayak yang ngeblog. Mereka tidak berhenti menulis. Seakan- akan jejaring sosial dan maraknya mikro blogging tidak berarti apa-apa bagi mereka. Iri rasanya. Entah kapan blog hijau itu kembali bernafas. Karena sungguh, jari jemari saya gatal untuk mulai lagi. Menulis apa yang baru saja saya baca dari sebuah buku.





















Komentar Terakhir